Umar Bonte Dukung Mangkasara’ Molulo 2026, Sebut Budaya sebagai Perekat Persaudaraan Sulawesi

Budaya 15 Aug 2026 21:02 4 min read 496 views By La Ode Umar Zaid
Umar Bonte Dukung Mangkasara’ Molulo 2026, Sebut Budaya sebagai Perekat Persaudaraan Sulawesi
Umar Bonte menyatakan dukungan terhadap Mangkasara’ Molulo 2026 sebagai ruang kolaborasi budaya, silaturahmi, dan persaudaraan masyarakat Sulawesi.

MAKASSAR, Celebesnesia – Dukungan terhadap perhelatan budaya Mangkasara’ Molulo 2026 terus menguat. Setelah mendapat dukungan dari sejumlah tokoh adat, budayawan, dan organisasi masyarakat, agenda kolaborasi budaya Sulawesi ini juga mendapat dukungan dari La Ode Umar Bonte.

Umar Bonte menyambut positif pelaksanaan Mangkasara’ Molulo 2026 yang dinilai tidak sekadar menjadi panggung pertunjukan seni, tetapi juga ruang untuk memperkuat silaturahmi, mempertemukan komunitas budaya, serta merajut kembali persaudaraan masyarakat Sulawesi.

Bagi Umar Bonte, kebudayaan memiliki posisi penting dalam membangun identitas sekaligus memperkuat hubungan antargenerasi.

Menurutnya, Mangkasara’ Molulo merupakan bentuk nyata bagaimana kekayaan tradisi dapat dijadikan ruang perjumpaan. Perbedaan adat, kesenian, bahasa, dan identitas budaya di Sulawesi tidak semestinya menjadi batas, melainkan kekuatan yang menyatukan.

“Mangkasara’ Molulo bukan hanya tentang pertunjukan budaya, tetapi tentang bagaimana kita mempertemukan identitas dan persaudaraan masyarakat Sulawesi dalam satu ruang.”

Ia juga menyatakan dukungan penuh terhadap keterlibatan generasi muda dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya berbicara mengenai masa lalu, tetapi harus mampu menjadikan generasi muda sebagai aktor utama yang membawa warisan leluhur ke masa depan.

“Saya mendukung penuh kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga budaya sekaligus memastikan generasi muda tetap mengenal, mencintai, dan meneruskan warisan leluhur kita.”

Mempertemukan Bumi Anoa dan Bumi Sawerigading

Mangkasara’ Molulo 2026 merupakan bagian dari program Bumi Anoa Nusantara Festival yang digagas AMBA SULTRA. Kegiatan ini dirancang sebagai ruang kolaborasi budaya antara Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan, sekaligus membuka jejaring kebudayaan yang lebih luas.

Gagasan tersebut sebelumnya mendapat dukungan dari sejumlah tokoh dan budayawan. Maharaja Kutai Mulawarman menyebut Mangkasara’ Molulo sebagai momentum penting bagi kebangkitan budaya Sulawesi, khususnya karena gerakan tersebut banyak digerakkan oleh generasi muda.

Sementara itu, budayawan Tolaki Bisman Saranani menilai kegiatan tersebut dapat menjadi wadah silaturahmi antarpelaku budaya sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan budaya Sulawesi Tenggara melalui Molulo sebagai salah satu simbol persatuan.

Hal serupa disampaikan Panglima Tamalaki FORMAKOM, Irfan Konggoasa, yang melihat Mangkasara’ Molulo sebagai momentum kebangkitan budaya dan pemuda Sulawesi. Ia menilai kebudayaan dapat menjadi perekat di tengah keberagaman masyarakat.

Salah satu gagasan utama dalam Mangkasara’ Molulo 2026 adalah menghadirkan Delapan Pilar Budaya Sulawesi.

Empat pilar berasal dari Bumi Anoa, yakni Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene. Sementara empat pilar lainnya berasal dari Bumi Sawerigading, yakni Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja.

Konsep tersebut menjadikan Mangkasara’ Molulo bukan hanya sebagai festival, tetapi sebagai ruang dialog kebudayaan. Tradisi dari dua kawasan besar di Sulawesi dipertemukan dalam satu panggung dengan semangat persaudaraan.

Pemilihan Kota Makassar sebagai lokasi kegiatan juga dinilai strategis. Makassar merupakan salah satu pusat pergerakan masyarakat dan kebudayaan di kawasan Indonesia Timur, sehingga menjadi ruang yang potensial untuk memperkenalkan kekayaan budaya Bumi Anoa kepada masyarakat yang lebih luas.

Berdasarkan rangkaian yang telah dipersiapkan panitia, kegiatan Mangkasara’ Molulo 2026 dijadwalkan diawali dengan agenda silaturahmi tokoh adat di lingkungan Kerajaan Gowa pada 28 Agustus 2026.

Selanjutnya, puncak pagelaran budaya dijadwalkan berlangsung di Anjungan Pantai Losari, Makassar, pada 29 Agustus 2026. Kegiatan ini juga dirancang melibatkan berbagai organisasi budaya, kepemudaan, mahasiswa, serta jejaring budaya lintas daerah.

Tidak hanya berhenti pada lingkup Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, agenda tersebut juga diarahkan untuk membangun jejaring kebudayaan di tingkat nasional dan regional. Sejumlah laporan menyebut adanya rencana keterlibatan delegasi dari Malaysia melalui International Nusantara Cultural Forum (INCF).

Bagi Umar Bonte, perluasan jejaring tersebut menjadi peluang penting untuk menunjukkan bahwa budaya Sulawesi memiliki kekuatan untuk tampil lebih luas tanpa kehilangan akar tradisinya.

Ia berharap semangat kolaborasi yang dibangun melalui Mangkasara’ Molulo dapat terus berkembang dan tidak berhenti pada satu agenda.

Sebab, di tengah perubahan zaman, pelestarian budaya membutuhkan lebih dari sekadar seremoni. Dibutuhkan keberanian generasi muda untuk mengenal akar budayanya, merawatnya, sekaligus menghadirkannya dalam kehidupan modern.

Mangkasara’ Molulo 2026 pun diharapkan menjadi lebih dari sekadar festival: sebuah ruang perjumpaan, persaudaraan, dan penegasan bahwa keberagaman budaya Sulawesi adalah kekuatan yang layak dijaga bersama

Recent Articles